Kamis, April 02, 2009

MAIN ASUMSI = BUNUH DIRI!


Kemarin saya ketemuan sama teman masa kuliah yang udah lama nggak jumpa. Dia adalah seorang pejabat tinggi Deptan yang berpendidikan S2 di USA. Kami makan siang mengendarai mobil terbarunya yang masih bau toko.

Sesampainya di Kemang, dia melihat sederetan spanduk-spanduk kecil berwarna-warni yang bertuliskan: “Emang Kuning Bisa PKS?” Lalu spanduk sebelahnya bertuliskan “Emang Hijau bisa PKS?” dan di sebelahnya lagi spanduk lain berwarna biru bertuliskan “Emang Biru bisa PKS?”. Saya sih merasa ngerti dengan maksud iklan itu (entahlah apa pengertian saya itu sama dengan maksud hati si pencipta!). Tapi teman saya yang modis, wanita karir urban dan berpendidikan tinggi dari status SES A+ ini melontarkan pertanyaan:
“Apa sih maksudnya?”

Saya terhenyak. (addduuuh… bahasaku puitis banget!!). Nggak nyangka kalau dia yang educated aja nggak bisa menangkap maksud dari iklan swederhana itu! Nah-nah-nah…. Apalagi mereka yang less educated ya???!!! Saya masih rasa-rasa nggak percaya… gitu kalo dia bener-bener nggak ngerti!

Belum habis keheranan saya itu, saya dengar lagi komentar yang sama dari keponakan saya, seorang sarjana S1, anak Jakarta yang baru gawe, yang kerjaanya ke salon melulu, yang lulus wisuda langsung dibeliin mobil baru sama bapaknya (artinya = young, urban, educated woman, A class) juga berkomentar yang mirip:
“Akyu juga tadinya nggak tahu maksudnya… tapi…..setelah lihat sederet, baru ngerti” (maksudnya, sederet spanduk mini PKS tentang warna ini dan itu pun bisa juga berarti PKS)

Nah. Lho. Lha kalau yang segmen-nya setinggi mereka aja susah ngertiin komunikasi itu, gimana yang laeen??!!! Apakah telah terjadi over estimate di sini??!!

Seringkali, kita yang bergerak dalam dunia komunikasi ini malah melakukan miss communication! Dan biang dari semua itu mainly adalah karena kita membangun suatu komunikasi dengan dasar asumsi-asumsi! Wow… betapa berbahaya nya suatu asumsi!

Seringkali kita membayangkan kalau segemn SES kelas A itu pasti begini dan begitu, padahal belum tentu itu benar. Karena itulah, saya selalu mendorong tim kreatif untuk betul-betul mengenali sosok target audience mereka. Ya,. SOSOK, bukan hanya data dan fakta bahwa target mereka adalah kelas SES A, urban, young, sporty dll. dsb.

Pernah suatu ketika, kita menangani brand yang sudah punya image tinggi; yang menaungi berbagai macam produk aksesoris mewah berharga puluhan juta rupiah. Target kita jelas: wanita A++ class, fashionable, cosmopolitan. Nah, kita pun tentunya dong, menyusun komunikasi yang sangat tinggi seleranya. Namun kemudian, di lapangan kita dapati, bahwa A++ tidak semuanya educated… dan ini bakal membuat perbedaan besar dalam cara kita berkomunikasi dengan mereka!

So, kenalilah audience anda, target anda! Lihatlah mereka sebagai suatu pribadi, bukan kelas. Jangan berasumsi, lakukanlah concept check setiap kali! Asumsi hanya akan membawa kita kepada komunikasi yang nggak efektif, nggak akan nyampe, nggak nyambung sama audience…

Asumsi hanya akan membawa kita kepada pemborosan. Dan kalau kita memboroskan uang client, apa yang terjadi???? Sama aja bunuh diri!! Nggak perlu ada krisis deh buat bangkrut…:)

3 komentar:

Ikhwan Aryandi mengatakan...

Bener banget mba Nunu, situasi dan sumsi kadang membuat sebuah kehancuran mendalam. Gak perlu yang namanya menunggu krisis.

Anonim mengatakan...

hmm..saya jg smpet ngeliat banner PKS begini : Apakah Merah bisa PKS? di taruh di daerah MERAH suatu tempat di Kemangkon, Purbalingga-tempate "sumanto menyantap sesama"..dan alhasil: semua banner di coret pake cat...PASTI TIDAK!

Jadi asumsi tepat SASARAN...kalo maksudnya jadi SASARAN TEMBAK WRONG AUDIENCE..

by PENSILBUJEL

mashengky mengatakan...

memang iklan tersebut sangat cerdas, bahkan kelewat cerdas sampe memotong kata2 yang sebenarnya menjadi fondasi dari pesan yang ingin disampaikan..

mungkin iklan2 PKS itu terpengaruh oleh iklan AMILD tanya kenapa yang notabene nya bikin bingung orang lain hehehe...

saya sih ngerti maksud iklan tersebut sejak awal membaca di jalanan ibukota..

tapi.. kembali lagi, iklan yang bagus belum tentu berhasil juga membuat orang mengalihkan pilihan ke produk yang dijual, karena alasan mendasar.. apalagi di Indonesia yang masih primordial ini

salam