Senin, Maret 10, 2008

MENYELEKSI CALON COPYWRITER

Kebetulan awal tahun 2008 ini saya tidak lagi diberi tugas sebagai creative director, tapi ‘hanya’ menjadi advisor saja di perusahaan tempat saya bekerja. Wah, saya jadi banyak waktu untuk mengamati dan berkontemplasi (susah ya bahasanya…?). Belajar untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam melihat hasil karya yang tengah ditayangkan agency dan mengevaluasinya untuk mendapat hasil yang lebih baik.

Tugas saya memang menjadi lebih ringan.. tapi sekarang group head saya yang pusing…;) Hari ini, dia mendatangi saya dan bertanya begini:
“Mbak, gimana sih caranya dapetin copywriter yang bagus?”
rupa-rupanya, dia yang sekarang kena ‘getah’ buat menyeleksi calon anggota baru tim kreatif.

Nah, jawaban saya atas pertanyaan ini, sengaja saya postingin di sini.. karena mungkin saja jawaban saya bisa memberikan manfaat bagi mereka yang ingin terjun menjadi seorang copywriter. Mimpung akhir-akhir ini lagi banyak lowongan nih, buat copywiter!

Dalam menyeleksi calon copywriter, tentu yang pertama-tama dilihat adalah CV dan portofolio. Surat lamaran yang unik, penyajian CV yang kreatif dan portofolio yang impresif adalah factor utama mengapa seorang applicant saya panggil untuk interview.

Aryo, salah satu copywriter di kantor, adalah salah satu contoh applicant yang memiliki semua criteria tersebut. Ia mengirim email dengan bahasa militer, CV seolah file rahasia, meski portofolionya masih biasa saja. Kekuranganya saat itu adalah… dia tinggal di Jogja! Saya jadi merasa ngga enak manggil hanya untuk wawancara… kasihan khan kalau tidak diterima?

Nah, setelah kita memutuskan untuk memanggil seseorang, biasanya yang dinilai berikutnya adalah chemistry, indikasi attitude, dan beberapa test mengenai kemampuan berfikir kreatif, pengetahuan mengenai konsep, besar passion yang ia miliki, apa motivasi kerjanya, sekuat apa mentalnya, dan seperti apa pribadinya. Hehe… banyak ya? Lalu, apakah semua itu akan kelihatan hanya dengan satu kali pertemuan/ wawancara? Bisa ya, bisa tidak…

Pernah suatu kali saya memanggil seorang applicant yang CV serta lamaranya bagus/ impresif. Sewaktu wawancara pun ia kelihatan cerdas, bersemangat, mengerti sedikit tentang konsep, lumayan kreatif, memiliki passion besar di bidang ini, kritis dan suka bertanya. Intinya, saya menyukai dia dan saya fikir ia akan cocok dengan anggota tim yang lain. Tapi, ketika saya cross chek dengan beberapa teman yang pernah mengenalnya (kebetulan dia sudah pernah bekerja dengan teman saya), saya mendapatkan rekomendasi yang kurang baik mengenai attitude-nya. Akhirnya, saya memilih untuk mencari lagi…

1 komentar:

Ardiyan mengatakan...

mmmmm...kl mo coba nyari nafkah jadi copy writer gmn nyari kesempatannya??