Tampilkan postingan dengan label jingle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jingle. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 26, 2008

MEMBUAT JINGLE YG BAIK

Bagaimanakah membuat jingle yang baik? Wah, agak panjang nih jawabnya! Tapi akan saya coba untuk membuatnya seringkas mungkin…

Seperti definisi saya sebelumnya, jingle adalah pengulangan dari brand name dan slogan. Tujuan pembuatan suatu jingle, biasanya untuk kepentingan yang long lasting (tidak seperti radio spot, atau lagu iklan, yang biasanya maksimum digunakan untuk satu tahun saja). Jingle biasanya dipergunakan untuk berbagai keperluan, namun terutama sebagai ‘signature tune’ dari semua materi komunikasi brand tsb. (kecuali di print ad, tentunya!).

Oleh karena itu, dalam pembuatan jingle, harus dipentingkan pada poin ‘memorability’ dari melodi, dan bukan enak atau tidak-nya sebuah jingle didengar. Boleh-boleh saja jingle tsb. ‘enak’ didengar namun apabila audience sulit untuk menangkap nama brand, sulit untuk mengingat nama brand, maka bisa dikatakan bahwa jingle tsb. gagal.

Ada sebuah contoh jingle yang menurut saya sangat bagus, yaitu jingle coklat TOP beberapa tahun lalu yang diciptakan oleh grup-nya Hamdan Omar. Meski bertahun telah berlalu, saya masih ingat kata-kata maupun irama jingle itu, yang akhirnya dikembangkan dalam beberapa aransemen musik (rap, hip-hop, reggae). Script-nya kira-kira begini (CMIIW):
Top top top..top top top top top…yang ini memang coklat top,
Top top top..top top top top top…rasanya ya memang top!
Top top top..top top top top top…coklat top ya memang nge-top!

Pada saat itu, di pasaran sudah ada beng-beng, yang notabene lebih enak rasanya. Top mau masuk pasar dengan harga sedikit lebih murah. Nah, karena ini produk baru, maka yang perlu diperkenalkan terlebih dulu adalah NAMA-nya. Kebetulan, namanya juga punya arti bagus untuk kalangan anak muda. Karakter anak muda suka dengan musik, jadi ya.. klop banget. Sayang sekali jingle yang bagus ini sekarang tidak lagi dipakai oleh client!

Akhir-akhir ini saya jarang sekali menemukan jingle yang baik. Banyak ‘pemerkosaan’ atas istilah jingle itu sendiri sehingga rancu antara ‘signing tune’ dengan jingle.

Contoh signing tune:
Dari telkomsel…
Sign in music-nya iklan Marlboro
Contoh Jingle:
Minyak kayu putih Konicare…
Blue Band Margarine..

Mudah-mudahan bisa ‘membayangkan’ sendiri ya melodinya.. soalnya saya ngga punya materinya..;)

Kamis, Februari 21, 2008

JINGLE, SAMAKAH DGN LAGU IKLAN ?

Orang seringkali menyamaratakan jingle dengan iklan yang berbentuk lagu. LOh? Emangnya beda ya?! Astaganaga. Ternyata banyak pula mereka yang sudah menyandang predikat ‘copywriter’ sendiri pun ada yang belum tahu!

Definisi tentang jingle ini saya dapat dari mentor saya dalam suatu workshop bertajuk “Radio Workshop” yang diadakan selama seminggu. Beliau ini adalah mantan creative director yang akhirnya buka usaha dan mengkhususkan dirinya pada “radio spot writing anda producing”. Gilingan… kalo di Indonesia, bisa survive ngga ya usaha begini? 
‘Jingle adalah pengulangan NAMA BRAND dan SLOGAN dengan ritme tertentu’
sedangkan ‘Lagu iklan adalah iklan yang dinyanyikan dengan melodi tertentu’. Begitulah kiranya. Jelas ngga?

Pakem ini sepertinya disetujui oleh banyak fihak termasuk client. Pernah dalam suatu presentasi script jingle, client sampai ‘menghitung’ berapa kali merk-nya disebut! Waduh! Ini client betul-betul ngerti apa artinya jingle, ngga heran sih dia jadi national marketing manager-nya suatu grup rokok terkenal!

Jingle biasanya diperlukan ketika stage of lifecycle dari produk tsb. masih sangat muda. Contoh: pada saat launch. Sehingga, diperlukan peningkatan awareness secara cepat terhadap nama brand, dan juga slogannya (ingat, slogan is a positioning of the product).

Lantas, pada saat seperti apa lagu iklan diperlukan? Ini pertanyaan menarik, karena saya yakin tidak mudah menjawabnya..:)
Pada dasarnya, lagu iklan diciptakan untuk menambah daya tarik pada brand tsb. Ada kiat yang menarik tentang lagu iklan ini… if you can’t sell anything, just sing it! Jadi, lagu iklan sangat direkomendasikan bagi produk-produk yang so so, yang biasa-biasa aja, yang ngga punya USP, yang juga disebut sebagai ‘parity products’.

Lagu iklan juga bisa menjadi ‘pelarian’ bagi copywriter yang tak mampu membuat ide besar dalam spot radionya..:)

Nah, kalau dirumusin, maka rumus JINGLE adalah: brand name, brand name, brand name, slogan, slogan, slogan, brand name, slogan, brand name, slogan….lalalala…brand name, slogan, brand name slogan… dst.
Sedang AD SONG adalah: product benefit, product benefit, product benefit,
product benefit, product benefit, …dst lalu diakhiri dengan brand name slogan.

Begitulah kir-kira...