Selasa, Oktober 14, 2008

"Anak magang enaknya diapain?"

Setiap departemen kreatif di suatu agency kedatangan mahasiswa yang diperkenalkan sebagai pelaku magang alias praktek kerja, setiap kali itu pula pertanyaan yang menjadi judul postingan ini muncul di benak para penghuni departemen kreatif. Kami tahu benar tujuan anak magang itu sesungguhnya apa. Tapi kami, para penghuni departemen kreatif, kelihatan sekali hanya punya waktu sedikit untuk beramah tamah dengan adik-adik mahasiswa. Bukan apa, kalau kening kami ada capnya, pastilah tulisannya adalah: deadline 12345 atau meeting 4567. Jadi setelah perkenalan dengan anak magang, biasanya kami kembali sibuk ngide, eksekusi, badai otak, berdiskusi dengan tim client services (account management), presentasi dengan CD atau klien.

Alhasil, anak-anak magang memandang para penghuni departemen kreatif sebagai senior-senior yang sombong, tak pedulian, atau asyik sendiri. Kalau satu anak magang langsung ditugaskan "menempel" pada satu tim, biasanya dia akan lebih mudah "menyatu" dengan seniornya di tim tersebut. Dia akan bisa langsung terlibat aktif di tim kreatif pada hari pertama magangnya. Senior yang baik biasanya akan langsung menjelaskan tugas di depan mata yang harus dikerjakan. Anak magang pun diharapkan bebas bertanya dan menggali ilmu sebanyak yang dia mau. Nah, model ini mengecilkan kemungkinan munculnya pertanyaan "anak magang enaknya diapain".

Di sisi lain, ada juga anak magang yang hanya diperkenalkan pada semua penghuni kreatif pada hari pertamanya. Selanjutnya, terserah Anda alias pintar-pintarlah mendekati dan bergaul dengan para senior yang tampak jutek itu. Ada anak magang yang "bermodal" yang langsung mengeluarkan laptop-nya dan tiba-tiba menjadi "autis" setelah berhasil mendapatkan koneksi internet. Anak magang yang datang tanpa laptop tapi bersemangat tinggi, duduk tercenung di mejanya, memikirkan bagaimana menjadi anak magang yang efektif. Anak magang yang pemalu, terdiam seribu bahasa, kebingungan mencari akal bagaimana caranya mendekati senior yang kelihatannya galak. Anak magang yang super PD langsung duduk di antara tim yang kelihatannya sedang asyik badai otak.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, saya bisa membagi model anak magang sebagai berikut: model "autis" dan model "aktif". Nah, menghadapi anak magang yang "autis", penghuni kreatif pun biasanya semakin tak peduli. Lha yang butuh ilmu kan dia? Kami tahu dia ada di mejanya, menghilang pada jam makan siang, muncul lagi untuk kembali "autis" di depan laptop-nya sampai tiba pukul 5 sore. Yang masih sopan "autis"nya bakal pamitan dengan senior terdekat dengan mejanya, yang tujuannya magang gak jelas bakal melangkah ke pintu keluar tanpa beban. Anak magang model ini dijamin takkan mendapat banyak ilmu di hari terakhir magangnya. Malah ada anak magang yang hanya beredar 2-3 hari, seminggu kemudian ada teman saya yang nyeletuk,"Eh.. anak magang itu ke mana, ya?". Waah... ternyata anak magang itu menghilang tanpa kesan dan pesan. Entah bagaimana dia membuat laporan magangnya di kampus nanti.

Sering saya melihat anak magang jelas bukan "autis" yang kebingungan di hari pertamanya. Art Director atau Copywriter saya bertanya, "Ada anak magang, enaknya diapain?". Saya jawab, "Sini, ajak ngide." atau "Terangin brief ini, coba suruh bikin script radio.". Suatu hari ada juga anak magang yang dengan semangat tingginya datang ke tim saya dan bertanya, "Mbak, ada tugas buat saya, gak?". Nah yang model begini dijamin gampang "masuk" ke dalam tim kreatif. Yah namanya saja departemen kreatif, yang dibutuhkan di sana adalah orang-orang yang kreatif, berinisiatif tinggi dan percaya diri untuk maju, bukan? Lewat tulisan ini, saya berharap Anda termasuk anak magang model ini.

Selamat magang dan menggali ilmu!

1 komentar:

aie mengatakan...

Wahhh..mau dunkz nyoba magang di situ...kalo ada info kasih tau saya yaa..