Rabu, April 30, 2008

TERLAMBATKAH SAYA MEMASUKI DUNIA COPYWRITING?

Pertanyaan arie ini segera menginspirasi saya untuk menulis postingan hari ini. Thanks arie!

Usia.. usia.. kenapa sih itu selalu dijadikan hambatan dan alasan? Sedangkan pendiri mustika ratu saja memulai bisnis di usia 40, dan tetap memimpin perusahaanya hingga kini berusia 80.

Di dunia swasta, performa lebih menentukan dari apa pun, termasuk penampilan, usia, bahkan pendidikan. Jadi, kalau kita punya kelemahan di satu fihak, maka pompalah performa anda! Tunjukkan kualitas kerja, kualitas hasil, dan segala dogma yang mengkungkung pun akan segera sirna!

Di dunia periklanan, banyak praktisi gaek berusia ‘pasca pensiun’ masih banyak berkiprah. Kenapa? Karena performa mereka tak bisa digantikan – apalagi disalib- oleh yang masih muda. Hei! Ini dunia kreatif lho! Dunia dimana mereka yang tetap bisa berkreasi lah yang akan bertahan – no matter what…

Kalau ada yang menganggap usia kepala 3 sudah ‘terlambat’ untuk memulai sesuatu yang bary, saya speechless deh. Sebab bagi saya, ada 2 macam usia: usia kronologis dan biologis. Kronologisnya boleh 60 tahun, tapi kalau biologisnya masih 30 tahun? Performanya, ide-idenya, kreativitasnya, kesehatanya masih 30 tahun? Siapa yang tak mau bekerja dengan orang seperti ini? Plus bonus kematangan dalam berfikir, lagi!

Tentu saja, kalau kita melakukan ‘start’ nya relative lebih lambat, ya harus nge gas yang kenceng dong! Belajar lebih keras, bekerja lebih keras, berusaha lebih keras.

Hehe, kembali ke analisa SWOT deh pokoknya.

Kalau usia anda adalah your only weakness, sedangkan your strength list-nya sampai 3 lembar, masak ngga kepake? Ngga mungkiiin…

Human resourch di bidang copywriting ini masih sangat, sangat, sangat sedikit… kenapa? Karena ngga ada sekolahnya! (maksud saya, pendidikan formalnya gitu loh…).
Bahkan lulusan ITKP saja, ngga memiliki pengetahuan cukup untuk bisa ‘langsung gawe’ jadi CW kok…

Nah, apakah tulisan ini motivating enough, Rie?

Selasa, April 29, 2008

50% OFF UNTUK PENGUNJUNG BLOG

Dear all,
karena proses cetak bukunya yang ngga memuaskan (lama dan hasilnya kabur), sementara sudah banyak teman-teman yang menanyakan buku ttg copywriting, maka saya putuskan untuk membuat web di mana orang bisa leluasa mendownload buku tsb. Jadi, buku ini sekarang tersedia berupa PDF file, yang di dalamnya ada gambar-gambar berwarna (versi cetaknya ngga berwarna).

Namun, karena untuk membuat web ini saya harus mengeluarkan dana yang lumayan, maka 'terpaksa' buku ini tidak bisa saya bagikan gratis. Terus terang, saya pun ngarang aja ketika bikin 'harga'.. jadi kalau ngerasa kemahalan atau kemurahan, please let me know?

Untuk menghormati pengunjung setia blog ini, saya berikan diskon 50%. Silahkan kirim email dgn subyek 'diskon buku', nanti saya beri akses khusus! (catt: tawaran ini hanya berlaku untuk 50 ORANG PERTAMA SAJA ya?)

Oh ya, buku ini memiliki 144 halaman dan belasan lampiran. Lampiranya berupa daftar agency beserta contact person-nya. Sengaja saya buat untuk mempermudah mereka yang akan terjun ke dunia per-copywriter-an.

Ada saran dan kritik? Silahkan...

Senin, April 28, 2008

BUKU TENTANG COPYWRITING BERBAHASA INDONESIA


Kemarin saya bertemu dengan anak lulusan luar negeri yang pernah belajar copywriting di luar sana. Dia menyarankan saya untuk membuat buku dalam bahasa Inggris saja, supaya pembacanya lebih luas, namun saya menolak. Bukan hanya karena bahasa Inggris saya ancur, namun juga karena alasan ini:
“Buku copywriting dalam bahasa asing sudah bejibun, saya pun dulu membaca buku-buku itu. Tapi dalam bahasa Indonesia? Masih sangat jarang (saya bahkan belum pernah tahu). Lagipula, the art of creating copy itu sangat beda dengan the art of designing yang notabene lebih universal sifatnya. Jadi, saya ingin focus memberi perhatian pada bidang copywriting di Indonesia saja.” Jawab saya
“0h, begitu ya? Saya baru tahu…kirain sama aja..copywriting di sini dan di sana!” begitu reaksinya.

Well. Ilmu dasar mengenai copywriting tentunya ya sama, wong kita ini belajarnya ya dari bule-bule itu je! Tapi.., ketika mulai ke tahap crafting.. waah.. bisa sangat berbeda! Sebab struktur kalimat dalam bahasa Indonesia itu kan kebalikan dari struktur kalimat dalam bahasa Inggris! Ya kan? Ingat Subyek-Predikat-Obyek? Menerangkan-diterangkan? Nah. Belum lagi kalau membahas kekayaan pepatah-petitih, soneta, prosa, pantun, peribahasa… gimana mo dibahas dgn bahasa lain..? Kosa katanya aja mereka ngga punya kaleeee!

Kebiasaan para copywriter lulusan luar (termasuk juga lulusan local yang terbiasa ber-english speaking di kantor) adalah, menciptakan dulu konsep atau bahkan judul dan slogan dalam bahasa Inggris terlebih dahulu. Ketika udah sounds good, eh, jadi bingung deh waktu mau terjemahin ke bahasa Indonesia. Lantas muncullah kalimat seperti ini:
“Damn! It was good, tapi kok jelek banget ya dalam bahasa…dasar ..xxxx (sensor)?!”
Ya iya lah…. Coba aja kerjain sebaliknya, coba deh terjemahin “Pria punya selera” ke dalam bahasa Inggris, atau “terus terang Philips terang terus” dalam bahasa asing, jadi aneh kan? Ngga ‘nggigit’ seperti aslinya.

Jadi, kalau saya baca artikelnya Mr. John Doe tentang “How to Create a Shocking Copy”, tentu tidak bisa dengan begitu saja secara harfiah saya terapkan dalam bahasa Indonesia.

Lagipula, saya ingin lebih memperkenalkan profesi copywriting kepada orang Indonesia. Soalnya, masih banyak yang malu kalau ditanya profesinya apa, dan dijawab penulis iklan, eh, orang ngga ngerti… (termasuk or-tu saya). Banyak orang ngga tahu bahwa dibalik penciptaan iklan yang ‘iritating’ itu ternyata ada pemikiran yang begitu luas dan mendalam mengenai berbagai bidang, dan melibatkan berbagai macam ilmu pengetahuan…(saya pun tercengang kok waktu tahu ternyata bikin iklan itu ga gampang!).
Nah, hal termudah untuk mencapai tujuan itu, ya tentunya kalau saya memperkenalkan copywriting dengan menggunakan bahasa Indonesia bukan?

Minggu, April 27, 2008

Teman handal dilupakan jangan


Inilah benda berharga sang copywriter.
Benda yang wajib dimiliki copywriter selain pena dan buku catatan kecilnya.
Benda yang setia menemani sang copywriter saat komat-kamit sendirian menghitung durasi naskah iklan TV atau radionya.

Stopwatch. Teman handal dilupakan jangan.

Nge-bunglon, siapa takut?


Dalam kehidupan sehari-hari, disebut-sebut bersifat bunglon adalah hal yang negatif, bukan? Tapi begitu Anda menjadi copywriter, memiliki sifat bak bunglon adalah hal yang positif lho!

Bunglon terkenal karena kemampuannya untuk berubah warna, menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya. Nah, copywriter juga harus mampu menjadi bunglon. Mengapa? Karena kita harus mempunyai kemampuan gaya bahasa yang berbeda untuk disesuaikan dengan target konsumen. Kalau kita harus "berbicara" dengan konsumen remaja, pakailah gaya bahasa ala remaja. Kalau sasaran "dagangan" kita berikutnya adalah untuk para ibu rumah tangga, ya jangan bergaya bahasa ala pekerja perbankan.

Mengapa kita harus bisa jadi bunglon? Maksud dan tujuannya sederhana saja kok...
Supaya iklan kita "kena" di sasaran, supaya iklan kita bisa lebih dekat di hati konsumen. Rebutlah perhatian konsumen Anda dengan bergaya bicara yang dekat dengan keseharian mereka pula. Manfaatkan kosa kata yang umumnya dikenal target konsumen kita.

Gaya bahasa terbagi antara formal dan non formal alias bahasa sehari-hari. Nah, dalam bahasa iklan atau copywriting, umumnya yang kita gunakan adalah bahasa sehari-hari yang tentunya tetap sopan dan jauh dari SARA. Saya menyebutnya "bahasa hati" karena gaya bahasa yang kita pakai sebaiknya bisa membahagiakan hati konsumen kita. Kalau hatinya bahagia, semoga dengan mudah dia pun akan tergerak untuk membeli "dagangan" kita.

Bagaimana cara memperkaya gaya bahasa kita? Yang sudah pasti adalah banyaklah membaca. Baca apa saja, mulai dari buku bermutu sampai tabloid kacangan. Lalu dengarkan radio khusus untuk remaja atau ibu-ibu, bergaullah dengan berbagai kalangan masyarakat, hadiri focus group discussion ketika klien kita mengadakan riset produk mereka. Pantau trend kata-kata di masyarakat. Semakin luas wawasan kita, kemampuan gaya bahasa kita pun semakin beragam.

So mariiiiiii... nge-bunglon, siapa takut?*



*Tulisan ini terinspirasi oleh tagline ciptaan seorang teman saya (saya modifikasi sedikit sesuai konteks di sini). Terima kasih juga untuk Nala Rinaldo - Art Director saya tercinta yang juga mengingatkan saya untuk tidak takut jadi "bunglon" saat berkarya.

Kamis, April 24, 2008

TIPS SUKSES JADI COPYWRITER

Postingan ini adalah untuk Anieq Fardah, seorang ibu rumah tangga di Jatim yang ingin menjadi CW... semoga membantu!

Bagaimana caranya, agar anda bisa sukses mencapai cita-cita menjadi seorang copywriter? Hehe.. ada ya yang bercita-cita menjadi copywriter? Apa profesi ini sudah seterkenal itu sih? Semoga aja!

Yang pertama kali dibutuhkan untuk menjadi seorang CW, ya tentunya memiliki kemampuan olah kata (wording power) yang baik. Namun lebih dari itu, seorang CW dituntut untuk memiliki juga kemampuan berfikir logis dan analitis, serta memiliki kemampuan untuk menyampaikan pendapatnya (punya kecerdasan verbal) dengan baik pula.

Weleh…!

Ya, betul. Dulu saya pernah meng-hire seorang writer yang menurut saya sudah memiliki segalanya. Namun baru sebulan, di aminta pindah jadi produser (kebetulan waktu itu kita punya departermen produser). Waktu saya tanya kenapa, dia jawab: saya stress mbak kalau disuruh presentasi…! Saya lebih suka kerja di lapangan…!

Wadaoooow..!

Nah, pagi para CW wannabe, perlu diketahui ya.. menjadi CW itu tidak hanya harus jago nulis, tapi juga jago debat (mempertahankan ide), serta jago presentasi (meyakinkan audience). Kalau anda hanya senangnya menulis saja tapi ‘males’ gaul dengan orang… sepertinya jabatan CW ngga akan memuaskan jiwa anda. Mungkin lebih baik berkarir sebagai penulis fiksi atau puisi? Itu bidang yang purely art…

Jadi CW juga berarti harus punya mental baja ketika dikritik, dikecengin (atau dikacangin ?), dan tidak mudah menyerah, patah hati, apalagi kecil hati. Ngga gampang jatuh mental. Kalau mental jatuh, harus mau cepat-cepat diambil lagi.

Bayangkan. Suatu saat saya pernah presentasi script radio ke salah satu Marketing Manager-nya Unilever dan dia berkomentar: I think this is not creative at all! Ampuun… rasanya waktu itu saya gemeeesss… banget! Tapi teguran itu saya jadikan pemacu untuk menulis lebih baik lagi. Hasilnya… sebuah spot radio yang kemudian memenangkan gold award! Huh. Puasnya bukan main. Bukan puas karena award-nya itu sendiri, tapi lebih karena perasaan puas bisa meng counter pernyataan client yang arrogant.
Jadi, siapkah kamu jadi CW? Siapkah kamu dikritik? Siapkah kamu dikepung deadline? Siapkah kamu melakukan revisi 113 kali? Siapkah kamu berfikir krearif, namun tetap logis?

Heheheh… emang enak jadi copywriter?!

Jatah cuap-cuap

Perhatikanlah jatah cuap-cuap Anda!
Ya, terutama saat Anda menulis copy untuk iklan TV Anda.
Kalau iklan TV Anda berdurasi 30 detik, kira-kira berapa detikkah jatah ideal narasi atau voice over-nya?
25 detik? 20 detik?
Bagaimana kalau hanya 5 detik?
Atau tidak sama sekali? Berani coba?

Menurut saya, membuat iklan TV sesungguhnya adalah salah satu hal yang paling nyaman untuk copywriter.
Katanya a picture can say a thousand words, bukan?
Karenanya, untuk apa ribet menghitung jatah cuap-cuap kita kalau memang visual sudah bisa mewakili? Jangan kerajinan menambahkan hal yang kiranya sudah jelas, alhasil pesan malah tak sampai. Atau membingungkan audiens karena visual dan audio saling berebut perhatian.

Hhhmmm... jatah cuap-cuap saya kali ini cukup sekian dulu, ya.

Rabu, April 23, 2008

GET OUT, GET A LIFE!

Hehe.. kalimat ini sebenernya saya dapati di salah satu print ad Olay yang keren banget, yang mereka jadikan slogan untuk seri kampanye mereka. Kalimat ini saya rasa sangat cocok untuk dijadikan slogan juga buat me-charge otak dan jiwanya orang kreatif yang udah terlalu lama bekutat di kantor, yang lembuuuuuuuur… terus!

Bergaul dengan sebanyak-banyaknya orang (bahkan binatang juga boleh), adalah salah satu cara paling jitu untuk ‘memperkaya’ diri kita.

Dalam bergaul, kita pasti bisa ‘menyerap’ segala macam ilmu dari teman kita. Siapa pun dia, bahkan - meski ia seorang idiot atau cacat sekali pun. Cobalah. Setidak-tidaknya anda bisa belajar bagaimana ia bertahan hidup bukan? Siapa tahu, kelak cara dia itu akan mengilhami anda untuk membuat sebuah TVC yang stunning… atau satu radio spot yang staggering…!

Keluarlah, amatilah segalanya. Seorang penulis yang baik adalah seorang pengamat yang baik pula. Lebarkanlah sayap, perluaslah pergaulan. Terjunlah ke dunia yang tadinya sama sekali tidak menarik perhatian anda: hadirilah arisan ibu-ibu, bagi anda pemuda yang macho dan biasanya hanya nongkrong di gym atau extreme sport. Dijamin, anda akan memiliki pengalaman yang sangat mengejutkan.

Keluarlah, serap segala informasi di seputar anda. Ada baiknya suatu kali anda hanya diam dan mendengarkan. Masukkan segalanya ke dalam fikiran, ke bawah sadar. Anda akan menemukan kenikmatan sendiri, setelah seharian ‘berbicara’ melalui tulisan-tulisan anda.

Berjalan-jalan lah di terminal, di pasar, di halaman masjid, depan gereja, taman kota, di kebun bibit senayan… Hehehe… barangkali anak Jakarta ada yang belum tahu kalau di Senayan ada kebun bibit? Di sana ada tanaman Bisbol? Yang buahnya mirip bola bisbol, keras dan berbulu? Tahukan anda kalau di sana ada pohon Sossis? Yang buahnya mirip sosis namun keras seperti batu? Haha! Betapa mengherankan hal-hal yang begitu dekat dengan kita namum tak pernah kita ketahui sebelumnya!

Buat yang religius, sesekali amatilah kehidupan PSK, night life dan Dugemers (para rakyat dugem). Saya jamin, itu takkan pernah membahayakan keyakinan anda. Wong Cuma mengamati kok???!

Saya pernah mendengar Andrea Hirata bicara:
“Penulis yang baik adalah mereka yang melakukan riset…!”

Riset buat saya bukanlah sesuatu yang selalu serius. Cukup jalan-jalan sana-sini, tanya ini-itu, nguping sana-sini. Buka mata, buka telinga, berkelana. Nah… ketika kita pulang, maka hati dan perasaan akan terasa lebih kaya….!

Selamat mencoba!

Senin, April 21, 2008

Tips on writing better copy

Copywriting Tips By Ivan Levison

On these pages, we look at how you write better copy. This relates to all kinds of copy, whether for brochures or web copy.


For whom are you writing?

Think about the people who will read your copy. Firstly, they're busy (isn't everyone, these days?). So they won't tolerate sloppy words or slow writing.

Secondly, your product may not greatly interest the customer. (People are interested mainly in themselves!). So it's vital to communicate well.

Readers need to know what benefits your product will give them. They'll be impressed by clear words, simple explanations and a logical flow - not by flowery words or long sentences.

The first task is to identify your customers. Where and when will they see your communication?


Exercise: Stop and make some notes about your customers. What kind of people are they?

The right kind of writing

Having got a clear picture of your reader, you should decide on the right sort of writing. From a postcard to a 36 page brochure, every type of writing is different.

Use the right sentence length

The sentence length depends on the medium you're using (whether a press ad or a sales leaflet). 10 words per sentence is about right for press advertisements, while 15 word sentences suit direct mail and brochures. Any sentence that exceeds 25 words will be difficult to follow


Adopt the right paragraph length

A paragraph of more than 15 lines is off-putting. 100 years ago, people had greater powers of concentration. But 30-second TV commercials and 10-second sound bites have reduced readers' attention span.


Use strong headlines

A headline should always encourage people to read the text. It should make them curious, or make them think they will learn something to their advantage. Be bold when it comes to headlines: they're the secret of getting people to read your words. Use long headlines freely: they work as well as short ones.

Never make the headline obscure. Never use words that people won't understand, as in this charity headline:


More women are victims of intestacy than divorce.

Even ordinary brochures need stimulating headlines. Brochures often waste an opportunity by using dull headlines like 'Introduction', or 'Product Characteristics'.



Use cross heads

Cross-heads (or subheads) are the small headings that break up groups of paragraphs in newspapers. Their role is attract the eye to the text and make it easier to read. Newspapers have the advantage of being able to add words like 'Crisis' or 'Sex'. You're unlikely to be able to use words like this. But you can still select the most evocative word from a group of paragraphs.

Use at least two headlines or sub-heads per page of text. They will guide the reader through the page.


Banish abstract words

Avoid using abstract words, like 'adjustment'. If you find you have written one, change it into a verb or use a concrete noun.

People like using abstract words because they sound weighty. They help the writer feel grand, but they also reduce the reader's understanding.

(to be continued...)

Kamis, April 17, 2008

MENGAPA SAYA GAGAL DALAM INTERVIEW?

Postingan ini untuk Arie, yang katanya pernah gagal dalam i-view (lihat shout box):

Tanda tanya besar, kecewa, penasaran.. mungkin itulah yang dirasakan ketika seseorang gagal menghadapi interview. Padahal, udah capek-capek bikin surat lamaran yang unik, portofolio yang impresif, eh; tinggal interview malah gagal! What’s wrong with me???!! Mungkin begitulah gerutuan yang ada di dalam hati.

“Ah, bego aja tuh perusahaan ngga ngambil gue! Rugi sendiri!”

Bungkin begitu suara hati defensive yang muncul, ketika ia sudah yakin dirinya berkualitas.

Nah, sebenarnya kenapa sih seseorang gagal dalam interview? Apa memang karena ia tidak cukup bagus? Atau karena minta gajinya terlalu tinggi?

Pada dasarnya, seorang pewawancara (orang yang lagi cari pegawai tambahan) mempertimbangkan beberapa factor ketika melakukan seleksi penerimaan pegawai. Point-point itu antara lain:

1. kapabilitas dan kualitas calon: apakah kemampuanya sesuai dengan yang dibutuhkan? Kalau over atau under expectation, bakal disingkirkan. Kok bisa sih, over expectation malah gagal? Ya iya lah… saya pernah cari senior AD tapi yang ngelamar malah group head dan bahkan ada juga creative director di agency kecil. Saya ngga enak, dan takut juga, kalau-kalau tempat saya hanya dia jadikan ‘batu loncatan’ sampai dia menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya.

2. attitude si calon: apakah dia datang tepat waktu? Apakah dia menelpon ketika telat? Apakah ia memiliki referensi tentang attitude yang baik dari rekan kerja dan boss sebelumnya?

3. personality-nya: apakah kira-kira dia bisa cocok dengan the current team member? Apakah dia bisa memberi ‘kehidupan’ baru bagi tim, karena personalitynya yang ceria/pendiam/kritis dll.?

4. chemistry: apakah chemistry-nya masuk dengan boss? Hal ini adalah purely feeling!

5. gaji: apakah ia meminta gaji yang sesuai dengan kapasitasnya?

Nah, jadi, banyak factor ya mengapa seseorang itu tidak lolos dalam sesi interview? Karenanya, jangan kecil hati ketika anda gagal. Sebab kemungkinanya memang banyak. Akan lebih baik bila anda tahu mengapa anda gagal. Coba kirim email ke pewawancara anda, tanyakan mengapa. Siapa tahu hal itu bisa membuat anda menjadi pribadi yang lebih mawas diri..?

Selamat belajar!