Tampilkan postingan dengan label tips melamar dan buat portfolio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips melamar dan buat portfolio. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 21, 2008

JUAL DIRI YUK!


Hueee…heee… judulnya “nggak” banget deh… padahal ini khan blog tentang copywriting?

Yo’i itu namanya intruiging headline! Judul yang ‘menggelitik’ orang untuk membaca.

Lantas, ngapain sih saya ngajak-ngajak jual diri? Ya iya lah… wong kita ini di dunia kerja ya selalu berusaha ‘jualan’ apa yang kita punya. Nah, pembelinya, kalau bukan company (kalau kita mo jadi pegawai) … ya client (kalau kita mo jadi pengusaha). So, ilmu jual diri ini penting banget khan?

Terus, apa sih yang musti kita perhatikan kalo mau jualan?
Coba deh pikir… pasti mutu, harga dan peta persaingan khan? Nah. Kalau gitu gampang deh, tinggal kita kulik apa sih ‘mutu’ kita?

Kalau dalam bahasa keren-nya, apa sih unique selling point- kita? Ada nggak ya? Kalau nggak ada, gimana dong…?

Copywriting, di atas kemampuan menulis dengan baik, indah dan sharp; adalah juga membutuhkan kemampuan berfikir analitis seperti ini. Kemampuan untuk mengurai keunikan suatu produk yang hendak kita ‘jual’. Untuk itu, tentu, diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai produk itu sendiri, bukan? Nah, produk apa yang paling anda kenal? Pastinya sih…, diri kita sendiri bukan?

Jual diri bagi seorang copywriter artinya adalah, melakukan analisis mengenai diri kita sendiri, dan membuat strategi bagaimana kita bisa menjualnya dengan cara yang se-kreatif mungkin, seindah mungkin!

Di situlah letak pentingnya sebuah portfolio: alat kamu buat jual diri!

Selasa, Agustus 19, 2008

GARBAGE IN=GARBAGE OUT

Ini adalah salah satu istilah dalam buku saya, yang ditulis oleh Haryani Soenarso, mantan CD di Lowe yang kini mengajar di UPH. Di situ dia mengingatkan kembali letak pentingnya sebuah BRIEF dalam proses kreatif! Kalau brief-nya kayak sampah, ya udah deh… keluarnya ya kayak sampah…! Gitu katanya.

Istilah itu terngiang di telinga saya tadi malam, ketika saya menemani satu tim lengkap sedang melakukan brainstorming di kantor. Tadi malam?!! Yup. Tepatnya jam setengah sebelas malam tanggal 18 Agustus 2008, yang di dalam penangggalan dikasih warna merah itu loh…?!!! Yak, betul, kami sedang BEKERJA, nglembur! Huaaa…!

Memang sih, idealnya suatu brief itu bisa memberi kita inspirasi. Tapi, gimana dong, kalau suatu saat kita menerima pekerjaan yang ngga ada brief-nya??! Well, ini dunia yang tak sempurna, kawan! Shit may happen, khan?

Seorang pekerja kreatif yang tangguh adalah mereka yang selalu mencoba menemukan jawaban atas ketidakmungkinan. Wuee… (sok) keren ya? Kalau ini bisa kita lakukan, maka saya jamin, bukan anda yang terpaksa melamar ke sana ke mari mencari pekerjaan; melainkan perusahaan dan para headhunter lah yang bakal sibuk memburu anda!

So, bagaimana caranya kita mengerjakan tugas semacam ini?

Pertama-tama, cobalah untuk memahami dulu apa permasalahanya (coba baca postingan saya berjudul ‘a shortcut to ideas’). Caranya: gali keterangan sebanyak mungkin tentang produk, target audience, peta persaingan dan positioning dari para pesaing tersebut.

Brief ‘sampah’ biasanya masih bisa menyediakan informasi-informasi tersebut. Nah, kini tugas anda adalah mencari kemungkinan positioning! Hal yang biasanya sudah ada dalam sebuah brief.

Bagaimana positioning itu bisa anda dapatkan?

Saran saya: buatlah slogan studies, sebanyak-banyaknya! Galilah slogan dari product knowledge, target audience, bahkan dari niche market yang mungkin tersedia di pasar…

Kamis, Juli 17, 2008

MENGAPA LAMARAN SAYA TIDAK MENDAPAT RESPON?

Maaf...
lama saya ngga posting tulisan sendiri. Lagi sibuk berat nih..
maklum, di kantor lagi kekurangan copywriter, jadi terpaksa turun gunung ngerjain sendiri. Hai! SAYA LAGI BUTUH COPYWRITER nih! The good one.

Ketika saya membuka lowongan beberapa waktu lalu, ada 2 applicant yang saya panggil tapi kedua2nya ngga lolos interview. Padahal, kami benar-benar butuh (TOP URGENT DAH!) Tapi kami tetap tidak kompromi dengan kualitas.

Nah, ada sebagian applicant yang tidak saya panggil, memfolow-up dengan cara yang tidak simpatik. Pakai email, nanyain kenapa ngga dipanggil. Hehe.. kalau saya harus menjawab email seperti itu satu per satu, wah... bisa gempor nih tangan, karena alasannya beragam bagi masing-masing orang. KArena itu, saya coba posting di sini supaya bisa 'menjawab' beberapa pertanyaan seperti itu.

Ketika anda melamar, maka yang mewakili anda adalah surat lamaran dan attachment-nya. Jadi, berhati-hatilah. Gunakan bahasa, gaya, dan cara yang mampu merefleksikan kepribadian anda. Ini membuat penyeleksi 'mengenal' anda sebelum ia memutuskan apakah anda 'layak panggil' atau tidak.

Kalau mau melamar di departemen kreatif, ya tunjukkan dong kalau anda itu 'kreatif' dari apa yang anda kirimkan itu! Kalau anda jadul, pasti deh ngirimnya pake pos, atau attachment-nya kegedean sehingga yang nerima juga males buka.

Ingat, saingan anda banyak.

Tantangan pertama adalah bagaimana 'mengalahkan' mereka dalam proses penyeleksian.

Kamis, April 17, 2008

MENGAPA SAYA GAGAL DALAM INTERVIEW?

Postingan ini untuk Arie, yang katanya pernah gagal dalam i-view (lihat shout box):

Tanda tanya besar, kecewa, penasaran.. mungkin itulah yang dirasakan ketika seseorang gagal menghadapi interview. Padahal, udah capek-capek bikin surat lamaran yang unik, portofolio yang impresif, eh; tinggal interview malah gagal! What’s wrong with me???!! Mungkin begitulah gerutuan yang ada di dalam hati.

“Ah, bego aja tuh perusahaan ngga ngambil gue! Rugi sendiri!”

Bungkin begitu suara hati defensive yang muncul, ketika ia sudah yakin dirinya berkualitas.

Nah, sebenarnya kenapa sih seseorang gagal dalam interview? Apa memang karena ia tidak cukup bagus? Atau karena minta gajinya terlalu tinggi?

Pada dasarnya, seorang pewawancara (orang yang lagi cari pegawai tambahan) mempertimbangkan beberapa factor ketika melakukan seleksi penerimaan pegawai. Point-point itu antara lain:

1. kapabilitas dan kualitas calon: apakah kemampuanya sesuai dengan yang dibutuhkan? Kalau over atau under expectation, bakal disingkirkan. Kok bisa sih, over expectation malah gagal? Ya iya lah… saya pernah cari senior AD tapi yang ngelamar malah group head dan bahkan ada juga creative director di agency kecil. Saya ngga enak, dan takut juga, kalau-kalau tempat saya hanya dia jadikan ‘batu loncatan’ sampai dia menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya.

2. attitude si calon: apakah dia datang tepat waktu? Apakah dia menelpon ketika telat? Apakah ia memiliki referensi tentang attitude yang baik dari rekan kerja dan boss sebelumnya?

3. personality-nya: apakah kira-kira dia bisa cocok dengan the current team member? Apakah dia bisa memberi ‘kehidupan’ baru bagi tim, karena personalitynya yang ceria/pendiam/kritis dll.?

4. chemistry: apakah chemistry-nya masuk dengan boss? Hal ini adalah purely feeling!

5. gaji: apakah ia meminta gaji yang sesuai dengan kapasitasnya?

Nah, jadi, banyak factor ya mengapa seseorang itu tidak lolos dalam sesi interview? Karenanya, jangan kecil hati ketika anda gagal. Sebab kemungkinanya memang banyak. Akan lebih baik bila anda tahu mengapa anda gagal. Coba kirim email ke pewawancara anda, tanyakan mengapa. Siapa tahu hal itu bisa membuat anda menjadi pribadi yang lebih mawas diri..?

Selamat belajar!