Kemarin ketika mengantar anak saya ke dokter, saya mendapat ‘pelajaran’ baru…
Sang dokter yang bersuamikan dokter dan anak seorang dokter pula, mengeluhkan harga pertamax plus yang terus naik setiap 15 hari sekali.
“Mau ganti premium, ntar antri lagi!” katanya. “Sekarang susah..! Udah semua (harga) naik gara-gara BBM. Biaya pendidikan pun gila-gilaan..! Kemarin anak temen saya kena 225 juta pake jalur mandiri. Sedang anak saya sendiri, gara-gara ngambil jalur sekolah internasional, harus bayar mahal. Padahal… ternyata ujung-ujungnya sama juga, ikut UN. Jadi percuma…!”
Saya, yang ngga pake pertamax plus, ngga nyekolahin anak di jalur internasional, dan ngga punya dana ratusan juta rupiah buat anak kuliah, hanya bengong mendengarkan ‘keluhan’ nya…
Heran ya, banyak sekali informasi negative yang mengalir masuk ke diri kita ini tiap hari! Dari berita-berita pembunuhan berantai, orang dimutilasi, perampokan sadis oleh oknum pelindung masyarakat, demo ini itu, sampai rekaman black box adam air yang menghebohkan itu!
Semuanya, kalau kita telan begitu saja, membuat hidup kita ini tambah susah saja! Membuat fikiran negative ini, tambah besar saja!
Apalagi di milis yang katanya dihunia orang kreatif periklanan pun, juga sering sekali kita dengar keluhan tentang ‘suramnya’ industri periklanan. Tentang banting-bantingan harga fee, tentang kreativitas yang mandeg, dll. dsb….
Hai, hai, hai… tak adakah secercah cahaya saja yang mampu menyinari hidup di zaman edan ini? Kemana larinya mental positif, kegembiraan dan fikiran yang terbuka, yang menjadi benih dan sekaligus pupuk kreativitas?
Bagi saya, kebahagian bukanlah terletak pada apa-apa yang kita miliki, namun kebahagiaan adalah bagaimana kita menerima hidup ini!
Setiap orang bisa mengeluh, tentu! Apalagi bagi seorang copywriter junior yang punya boss demanding. Dikasih kerjaan sore, harus jadi script besok pagi. Mana brief ngga jelas, hanya dikasih bahan mentah buat dicerna malam itu juga. Deadline super ketat, kualitas kerjaan harus bagus, overloaded lagi! Hahaha…!
Tapi saya percaya, bagi mereka yang memiliki mental baja tak akan mengeluhkan keadaan seperti ini. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: what doesn’t kill you, make you stronger?
Copywriter-copywriter tangguh adalah mereka yang mengambil tekanan sebagai makanan, yang mengambil celaan sebagai tantangan, dan yang mengambil beban sebagai ajang unjuk gigi.
Hidup akan susah kalau kita menganggapnya demikian. Sebaliknya, hidup akan menggairahkan kalau kita mampu menaklukan rintangan.
Nah, kalau anda adalah tipe penyemangat, dan bukan pengeluh, mungkin anda akan tumbuh menjadi orang kreatif yang lebih bersinar… sebab ketika hati kita bergembira, maka hormone dan syaraf kita akan menautkan diri, membentuk sambungan neuron baru, melahirkan ide-ide baru, cara berfikir baru…
Itulah sekelumit ilmu yang saya pelajari ketika berhadapan dengan ilmu kedokteran syaraf bayi, atau Baby Science…
Semoga bermanfaat!
Tampilkan postingan dengan label CW improvement tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CW improvement tips. Tampilkan semua postingan
Senin, Agustus 04, 2008
Selasa, Juni 17, 2008
PENGARUH KATA (& KAMPANYE) NEGATIF DAN POSITIF
Mungkin sering ya, di antara copywriter pemula mendengar komentar seperti ini:
“Jangan deh… pendekatanya negative…!”
Kalimat itu bisa muncul dari klien, maupun dari CD atau Account Director. Emang sih bete (saya juga begitu kok, duluuu… sekali). Tapi, mereka yang peduli pada brand personality pasti akan memahami komentar ini. Bagaimana pun, image negative pasti akan dihindari, sebab bisa menyimpan potensi yang membahayakan brand. Padahal, brand kan dibangun dengan investasi yang ngga murah toh…? Hehe.. hari ini postingan saya agak ‘advance’ nih. Tentang brand building dan bagaimana pengaruh kampanye negative atau kata-kata negative.
Kebetulan, kemarin saya menemukan postingan ini di salah satu milis, yang menurut saya berhubungan dengan “kata” (urusanya copywriter nih) dan negativity (urusanya campaign approach). Selain itu… mungkin manfaat juga buat hidup kita (hahahaha… semoga!)
Berikut adalah pengalaman penulis, yang bernama Yuni Fitria:
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air yang ditulis dalam buku The Hidden Messages in Water karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya sbb:
1. Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.
2. Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:
3. Toples A : Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih.
4. Toples B : Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu
5. Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.
Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian :
Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap.
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.
Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyata beras dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata Kamu Bodoh.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.
“Jangan deh… pendekatanya negative…!”
Kalimat itu bisa muncul dari klien, maupun dari CD atau Account Director. Emang sih bete (saya juga begitu kok, duluuu… sekali). Tapi, mereka yang peduli pada brand personality pasti akan memahami komentar ini. Bagaimana pun, image negative pasti akan dihindari, sebab bisa menyimpan potensi yang membahayakan brand. Padahal, brand kan dibangun dengan investasi yang ngga murah toh…? Hehe.. hari ini postingan saya agak ‘advance’ nih. Tentang brand building dan bagaimana pengaruh kampanye negative atau kata-kata negative.
Kebetulan, kemarin saya menemukan postingan ini di salah satu milis, yang menurut saya berhubungan dengan “kata” (urusanya copywriter nih) dan negativity (urusanya campaign approach). Selain itu… mungkin manfaat juga buat hidup kita (hahahaha… semoga!)
Berikut adalah pengalaman penulis, yang bernama Yuni Fitria:
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air yang ditulis dalam buku The Hidden Messages in Water karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya sbb:
1. Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.
2. Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:
3. Toples A : Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih.
4. Toples B : Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu
5. Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.
Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian :
Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap.
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.
Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyata beras dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata Kamu Bodoh.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.
Senin, Juni 02, 2008
ATTITUDE, SEKALI LAGI ATTITUDE!
Attitude adalah modal tambahan bagi seorang copywriter. Sebagus apa pun kriteria 3C anda, tapi kalau attitude kurang, maka pasti akan mempengaruhi perjalanan karir seseorang. Kenapa? Karena bekerja di periklanan adalah bekerja dalam tim! Dan attitude yang benar, seringkali menjadi penentu penting. Kadangkala, orang yang secara kemampuan tidak terlalu menonjol, namun attitude nya terpuji, ia bisa melesat naik gaji maupun posisinya hanya karena attitude! Hebat ya?
Kita sering lihat sendiri, di blog ini, seorang pengunjung baru tanpa permisi berteriak di shoutbox minta pekerjaan jadi freelancer. Ada juga yang tiba-tiba sms ke saya tanpa permisi minta jadi asisten...bagaimana menurut anda attitude-nya? Is he serious???? Apakah mungkin saya mempertaruhkan kredibilitas saya untuk orang seperti itu? Aha!
Jika anda serius ingin mendapatkan pekerjaan freelance, ingin mendapat uang saku, ingin mendapat uang tambahan.. setidaknya perhatikan dulu attitude anda. Baru kemudian asah kemampuan anda. Tunjukkan dan buktikan, anda orang yang layak untuk dipilih…: Buatlah CV yang unik, portofolio yang impresif, dan perkenalkanlah diri anda dengan elegan atau unik atau lucu, sesuai dengan kepribadian anda…
(Sorry ..saya lagi ‘eneg’ sama gaya mereka yang suka mengeluh, merengek dan menyek-menyek ngga jelas)
Kita sering lihat sendiri, di blog ini, seorang pengunjung baru tanpa permisi berteriak di shoutbox minta pekerjaan jadi freelancer. Ada juga yang tiba-tiba sms ke saya tanpa permisi minta jadi asisten...bagaimana menurut anda attitude-nya? Is he serious???? Apakah mungkin saya mempertaruhkan kredibilitas saya untuk orang seperti itu? Aha!
Jika anda serius ingin mendapatkan pekerjaan freelance, ingin mendapat uang saku, ingin mendapat uang tambahan.. setidaknya perhatikan dulu attitude anda. Baru kemudian asah kemampuan anda. Tunjukkan dan buktikan, anda orang yang layak untuk dipilih…: Buatlah CV yang unik, portofolio yang impresif, dan perkenalkanlah diri anda dengan elegan atau unik atau lucu, sesuai dengan kepribadian anda…
(Sorry ..saya lagi ‘eneg’ sama gaya mereka yang suka mengeluh, merengek dan menyek-menyek ngga jelas)
Jumat, Mei 02, 2008
SERIBU WAJAH COPYWRITER
Copywriter adalah seorang salesman
Namun juga seorang actor
Copywriter adalah seekor bunglon
Namun juga seorang orator
Copywriter adalah seorang seniman
Namun juga seorang team player
Copywriter adalah seorang pengkhayal
Namun juga seorang marketer
Copywriter adalah seorang pemikir
Namun juga seorang surveyor
Copywriter adalah seorang pujangga
Namun juga seorang komunikator
Copywriter adalah seorang realis
Namun juga seorang oportunis
Copywriter adalah seorang analis
Copywriter adalah seorang humanis
Namun juga seorang kritikus
Copywriter, adalah satu manusia dengan seribu wajah dan sisi kepribadian
Isn’t that scary? Or interesting?
Namun juga seorang actor
Copywriter adalah seekor bunglon
Namun juga seorang orator
Copywriter adalah seorang seniman
Namun juga seorang team player
Copywriter adalah seorang pengkhayal
Namun juga seorang marketer
Copywriter adalah seorang pemikir
Namun juga seorang surveyor
Copywriter adalah seorang pujangga
Namun juga seorang komunikator
Copywriter adalah seorang realis
Namun juga seorang oportunis
Copywriter adalah seorang analis
Copywriter adalah seorang humanis
Namun juga seorang kritikus
Copywriter, adalah satu manusia dengan seribu wajah dan sisi kepribadian
Isn’t that scary? Or interesting?
Minggu, April 27, 2008
Nge-bunglon, siapa takut?

Dalam kehidupan sehari-hari, disebut-sebut bersifat bunglon adalah hal yang negatif, bukan? Tapi begitu Anda menjadi copywriter, memiliki sifat bak bunglon adalah hal yang positif lho!
Bunglon terkenal karena kemampuannya untuk berubah warna, menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya. Nah, copywriter juga harus mampu menjadi bunglon. Mengapa? Karena kita harus mempunyai kemampuan gaya bahasa yang berbeda untuk disesuaikan dengan target konsumen. Kalau kita harus "berbicara" dengan konsumen remaja, pakailah gaya bahasa ala remaja. Kalau sasaran "dagangan" kita berikutnya adalah untuk para ibu rumah tangga, ya jangan bergaya bahasa ala pekerja perbankan.
Mengapa kita harus bisa jadi bunglon? Maksud dan tujuannya sederhana saja kok...
Supaya iklan kita "kena" di sasaran, supaya iklan kita bisa lebih dekat di hati konsumen. Rebutlah perhatian konsumen Anda dengan bergaya bicara yang dekat dengan keseharian mereka pula. Manfaatkan kosa kata yang umumnya dikenal target konsumen kita.
Gaya bahasa terbagi antara formal dan non formal alias bahasa sehari-hari. Nah, dalam bahasa iklan atau copywriting, umumnya yang kita gunakan adalah bahasa sehari-hari yang tentunya tetap sopan dan jauh dari SARA. Saya menyebutnya "bahasa hati" karena gaya bahasa yang kita pakai sebaiknya bisa membahagiakan hati konsumen kita. Kalau hatinya bahagia, semoga dengan mudah dia pun akan tergerak untuk membeli "dagangan" kita.
Bagaimana cara memperkaya gaya bahasa kita? Yang sudah pasti adalah banyaklah membaca. Baca apa saja, mulai dari buku bermutu sampai tabloid kacangan. Lalu dengarkan radio khusus untuk remaja atau ibu-ibu, bergaullah dengan berbagai kalangan masyarakat, hadiri focus group discussion ketika klien kita mengadakan riset produk mereka. Pantau trend kata-kata di masyarakat. Semakin luas wawasan kita, kemampuan gaya bahasa kita pun semakin beragam.
So mariiiiiii... nge-bunglon, siapa takut?*
*Tulisan ini terinspirasi oleh tagline ciptaan seorang teman saya (saya modifikasi sedikit sesuai konteks di sini). Terima kasih juga untuk Nala Rinaldo - Art Director saya tercinta yang juga mengingatkan saya untuk tidak takut jadi "bunglon" saat berkarya.
Kamis, April 03, 2008
TIPS JADI COPYWRITER SUKSES
Postingan ini jawaban untuk AFI, yang memberi komentar pada postingan saya tentang “indahnya dunia periklanan”.
Ehm! Copywriter sukses? Hehehe… apa dulu ya, definisinya? Apakah yang gajinya gede? Yang karirnya menanjak terus (sampai jadi apa?) atau yang award-winning type? Maaf Afi, soalnya definisi “sukses” di sini harus jelas, supaya ngga ada over expectation gitu deh…
Copywriter sukses buat saya adalah dia yang mampu memberikan karya-karya yang memukau, karya-karya yang membanggakan. Entah itu menang award atau tidak, entah itu dibeli klien atau tidak. Tapi, setiap karya yang bagus tak pernah membutuhkan ‘kalimat berbusa’ untuk meyakinkan orang bahwa ia memang bagus. Saya selalu percaya: good ads will talk (sell) by itself.
Karya yang membanggakan hanya akan lahir dari 3 kemampuan dasar seorang copywriter, yakni: crafting, creativity dan conceptual thinking ability. Ketiga factor itu harus berjalan seimbang untuk bisa bekerja sinergis dalam waktu yang bersamaan.
Crafting: latihlah selalu kemampuan dalam menyusun kata-kata yang indah, bacalah puisi, fiksi, karya sastra yang indah, pantun, sonata dan juga pepatah petitih, kata-kata mutiara serta aneka peribahasa yang banyak dimiliki masyarakat kita. Perbanyaklah perbendaharaan kosa kata yang aneh, jarang dan jadul. Perkayalah diri dengan referensi mengenai kata-kata yang indah namun sudah banyak terlupakan. Jangan hanya terjebak pada kata-kata gaul masa kini saja. Ingat, slogan yang powerfull seperti “pria punya selera” adalah digali dari kosa kata dan susunan kalimat “jadul”.
Creativity: asah terus kemampuan diri dengan selalu meningkatkan kemampuan otak kita dalam berfikir kreatif. Salah satu tips hebat yang pernah saya terima adalah: mulailah harimu dengan humor! Humor akan membuka simpul syaraf otak kita dan membuatnya lebih ‘hidup’. Ingat, kemampuan kreatif otak kita adalah ketika kita menggunakan cara berfikir yang ‘fun, nakal, dan ceria’ bukan sebaliknya.
Conceptual thinking: perbanyaklah portofolio anda dengan berbagai macam kategori produk. Kategori yang berbeda memerlukan pendekan berbeda pula. Ada kategori produk yang bisa dibawa fun (misalnya permen atau detergent) , namun juga ada yang harus serius (misalnya otomotif, obat-obatan). Bekerjalah dengan mereka yang lebih senior dari anda, yang memiliki reputasi baik. Jangan pernah takut dengan CD galak, karena biasanya mereka yang memiliki kemampuan tinggi juga ppunya demand tinggi kepada anak buahnya. Belajarlah dari awar-winning person, perbanyaklah melihat-lihat award-winning material. Pelajarilah kenapa mereka dipuji.
Kesimpulan dari semua ocehan saya di atas adalah…teteup… keep learning!
Ehm! Copywriter sukses? Hehehe… apa dulu ya, definisinya? Apakah yang gajinya gede? Yang karirnya menanjak terus (sampai jadi apa?) atau yang award-winning type? Maaf Afi, soalnya definisi “sukses” di sini harus jelas, supaya ngga ada over expectation gitu deh…
Copywriter sukses buat saya adalah dia yang mampu memberikan karya-karya yang memukau, karya-karya yang membanggakan. Entah itu menang award atau tidak, entah itu dibeli klien atau tidak. Tapi, setiap karya yang bagus tak pernah membutuhkan ‘kalimat berbusa’ untuk meyakinkan orang bahwa ia memang bagus. Saya selalu percaya: good ads will talk (sell) by itself.
Karya yang membanggakan hanya akan lahir dari 3 kemampuan dasar seorang copywriter, yakni: crafting, creativity dan conceptual thinking ability. Ketiga factor itu harus berjalan seimbang untuk bisa bekerja sinergis dalam waktu yang bersamaan.
Crafting: latihlah selalu kemampuan dalam menyusun kata-kata yang indah, bacalah puisi, fiksi, karya sastra yang indah, pantun, sonata dan juga pepatah petitih, kata-kata mutiara serta aneka peribahasa yang banyak dimiliki masyarakat kita. Perbanyaklah perbendaharaan kosa kata yang aneh, jarang dan jadul. Perkayalah diri dengan referensi mengenai kata-kata yang indah namun sudah banyak terlupakan. Jangan hanya terjebak pada kata-kata gaul masa kini saja. Ingat, slogan yang powerfull seperti “pria punya selera” adalah digali dari kosa kata dan susunan kalimat “jadul”.
Creativity: asah terus kemampuan diri dengan selalu meningkatkan kemampuan otak kita dalam berfikir kreatif. Salah satu tips hebat yang pernah saya terima adalah: mulailah harimu dengan humor! Humor akan membuka simpul syaraf otak kita dan membuatnya lebih ‘hidup’. Ingat, kemampuan kreatif otak kita adalah ketika kita menggunakan cara berfikir yang ‘fun, nakal, dan ceria’ bukan sebaliknya.
Conceptual thinking: perbanyaklah portofolio anda dengan berbagai macam kategori produk. Kategori yang berbeda memerlukan pendekan berbeda pula. Ada kategori produk yang bisa dibawa fun (misalnya permen atau detergent) , namun juga ada yang harus serius (misalnya otomotif, obat-obatan). Bekerjalah dengan mereka yang lebih senior dari anda, yang memiliki reputasi baik. Jangan pernah takut dengan CD galak, karena biasanya mereka yang memiliki kemampuan tinggi juga ppunya demand tinggi kepada anak buahnya. Belajarlah dari awar-winning person, perbanyaklah melihat-lihat award-winning material. Pelajarilah kenapa mereka dipuji.
Kesimpulan dari semua ocehan saya di atas adalah…teteup… keep learning!
Senin, Maret 24, 2008
EDIT, EDIT, EDIT…!
Inilah bedanya seni menulis iklan dengan seni tulis menulis yang lain. Dalam menulis iklan, maka kemampuan anda untuk membuat kalimat yang ringkas, padat dan berisi menjadi sangat penting! Mengapa? Masih juga bertanya? Ck..ck…ck… please deh, iklan tidak dicipta untuk menjadi best seller book, khan? Sebaliknya, iklan berusaha dengan cerdik memanfaatkan waktu yang Cuma dua detik, untuk menyampaikan pesan sponsor… jadi, mengapa bertele-tele?
Kesalahan seorang copywriter pemula adalah, mereka seringkali too in love with their own work! Mereka sibuk merangkai kata seindah-indahnya untuk menerangkan kelebihan produk yang diiklankan. Emang ini menunjukkan passion yang besar sih… tapi… akan berpotensi untuk kehilangan konsumen juga! Jadi, please, re-edit apa pun sebelum script yang anda buat itu di present ke client.
Peraturan utama editing adalah: hilangkan, atau persingkat kata sambung:
Yang
Adalah
Selanjutnya… dll.
Lalu, ganti kata-kata yang panjang menjadi pendek, yang penting isinya sampai, bukan? Di sini lah penguasaan seorang copywrtiter terhadap kosakata bahasa menjadi penting, termasuk perbendaharaan sinonim-nya. Di sini juga lah biasanya copywriter lulusan dalam negeri memiliki keunggulan!
Contoh:
Berhadiah gelas cantik setiap pembelian 1 dus
Bisa di-edit menjadi:
Gratis gelas cantik tiap beli 1 dus
Kalimat kedua jadi lebih pendek, namun sama artinya bukan?
Hei, tugas utama kita adalah menyampaikan pesan, bukan membuat orang mengapresiasi kalimat nan indah dan benar yang kita tulis. Itu – kalau pun bisa – hanya menjadi sebuah compliment saja buat seorang copywriter.
Jadi, saran saya, cobalah edit kalimat anda setiap kali selesai merangkai kalimat. Hanya orang ‘cerdik’ yang mampu menggunakan waktu sesingkat-singkatnya untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya. Hanya copywriter handal yang bisa menggunakan kalimat sependek-pendeknya untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya!
Semoga manfaat!
Kesalahan seorang copywriter pemula adalah, mereka seringkali too in love with their own work! Mereka sibuk merangkai kata seindah-indahnya untuk menerangkan kelebihan produk yang diiklankan. Emang ini menunjukkan passion yang besar sih… tapi… akan berpotensi untuk kehilangan konsumen juga! Jadi, please, re-edit apa pun sebelum script yang anda buat itu di present ke client.
Peraturan utama editing adalah: hilangkan, atau persingkat kata sambung:
Yang
Adalah
Selanjutnya… dll.
Lalu, ganti kata-kata yang panjang menjadi pendek, yang penting isinya sampai, bukan? Di sini lah penguasaan seorang copywrtiter terhadap kosakata bahasa menjadi penting, termasuk perbendaharaan sinonim-nya. Di sini juga lah biasanya copywriter lulusan dalam negeri memiliki keunggulan!
Contoh:
Berhadiah gelas cantik setiap pembelian 1 dus
Bisa di-edit menjadi:
Gratis gelas cantik tiap beli 1 dus
Kalimat kedua jadi lebih pendek, namun sama artinya bukan?
Hei, tugas utama kita adalah menyampaikan pesan, bukan membuat orang mengapresiasi kalimat nan indah dan benar yang kita tulis. Itu – kalau pun bisa – hanya menjadi sebuah compliment saja buat seorang copywriter.
Jadi, saran saya, cobalah edit kalimat anda setiap kali selesai merangkai kalimat. Hanya orang ‘cerdik’ yang mampu menggunakan waktu sesingkat-singkatnya untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya. Hanya copywriter handal yang bisa menggunakan kalimat sependek-pendeknya untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya!
Semoga manfaat!
Rabu, November 21, 2007
Sisi Lain Anak Iklan: Mengisi Time Sheet
Membaca tulisan Nunu yang berjudul "Bercintalah Setiap Hari", saya jadi ingat kejadian berikut ini. Di suatu agency multinasional, saya dan teman-teman kala itu diwajibkan mengisi time sheet. Oleh sekretaris General Manager, kami selalu diingatkan jauh-jauh hari, setidaknya selama hampir 7 hari sebelum akhir bulan, e-mail kami pasti diramaikan peringatan untuk tidak lupa menyerahkan time sheet pada waktunya. Tapi dasar kelakuan anak-anak departemen kreatif, kalau belum deadline, ya belum dikerjakan. Apalagi yang namanya mengisi time sheet. Nah, suatu kali, teman saya ini benar-benar dikejar harus menyerahkan time sheet-nya dalam waktu 10 menit.
Keesokan harinya dia dipanggil Bapak GM. Beliau mempertanyakan bagaimana dia bisa menghabiskan total waktu 36 jam dalam satu hari yang normalnya cuma 24 jam itu untuk mengerjakan suatu tugas? Entah si teman ini memang kreatif atau jago ngeles, dia menjawab dengan ringannya kalau itu memang waktu yang digunakannya saat menyelesaikan tugas, mulai dari mencari ide hingga eksekusi. Dia berkata, saat di kamar mandi dan sambil tidur pun, otaknya terus bekerja. Bapak GM jadi geleng-geleng kepala. Katanya, "Lain kali kalau 'ngarang time sheet yang masuk di akal.". Belakangan, teman saya ini mengaku di depan kami bahwa waktu mengisi time sheet itu dia benar-benar lupa kalau sehari itu cuma 24 jam, dia langsung main jumlah saja. Muncullah angka 36 itu. Yah.. itulah akibat dikejar deadline.
Terlepas dari kemalasan anak-anak tim kreatif mengisi time sheet, saya setuju dengan tulisan Nunu. Kita yang mencintai pekerjaan kita di dunia iklan ini pasti tidak keberatan dengan jadwal kerja yang panjang itu, 24 jam sehari 7 hari seminggu. Selama pekerjaan belum tuntas, otak kita pasti terus berputar walaupun kita sudah di rumah atau terkantuk-kantuk dalam perjalanan pulang. Belum lagi kalau harus menyelesaikan beberapa tugas dalam waktu yang hampir bersamaan, rasanya kita selalu kekurangan waktu. Stres kerap menjadi santapan harian anak iklan. Wajah-wajah jutek gampang ditemui kalau deadline sudah di hitungan menit. Saya pernah tegang dikejar deadline hingga ke dalam mimpi, terjadinya selama dua malam berturut-turut sebelum waktunya presentasi. Uuh... kalau sudah begini, sudah tidak sehat namanya!
Akhirnya saya belajar untuk membatasi diri. Kalau waktunya tidur, ya tidurlah tanpa embel-embel "halaah... gimana nih.. belum dapat ide...". Waktunya makan, ya nikmati yang benar rezeki Tuhan saat itu. Pas waktunya shalat, ya harus khusyuk, jangan 'ngebut demi kembali lagi ke meja kerja secepatnya. Ide pasti datang kok. Kata Creative Director saya dulu, makin dipaksa pasti makin terasa susah. Semua kan sudah lewat proses, jadi pasti ada saatnya muncul. Pekerjaan yang harusnya penuh cinta ini janganlah dibawa susah.
Dari hal-hal seperti tersebut di atas, saya mulai mengerti arti pentingnya mengisi time sheet untuk diri sendiri. Time sheet yang tidak asal isi alias apa adanya juga membuat kita bisa melihat cara kita bekerja sudah efektif atau belum.
Keesokan harinya dia dipanggil Bapak GM. Beliau mempertanyakan bagaimana dia bisa menghabiskan total waktu 36 jam dalam satu hari yang normalnya cuma 24 jam itu untuk mengerjakan suatu tugas? Entah si teman ini memang kreatif atau jago ngeles, dia menjawab dengan ringannya kalau itu memang waktu yang digunakannya saat menyelesaikan tugas, mulai dari mencari ide hingga eksekusi. Dia berkata, saat di kamar mandi dan sambil tidur pun, otaknya terus bekerja. Bapak GM jadi geleng-geleng kepala. Katanya, "Lain kali kalau 'ngarang time sheet yang masuk di akal.". Belakangan, teman saya ini mengaku di depan kami bahwa waktu mengisi time sheet itu dia benar-benar lupa kalau sehari itu cuma 24 jam, dia langsung main jumlah saja. Muncullah angka 36 itu. Yah.. itulah akibat dikejar deadline.
Terlepas dari kemalasan anak-anak tim kreatif mengisi time sheet, saya setuju dengan tulisan Nunu. Kita yang mencintai pekerjaan kita di dunia iklan ini pasti tidak keberatan dengan jadwal kerja yang panjang itu, 24 jam sehari 7 hari seminggu. Selama pekerjaan belum tuntas, otak kita pasti terus berputar walaupun kita sudah di rumah atau terkantuk-kantuk dalam perjalanan pulang. Belum lagi kalau harus menyelesaikan beberapa tugas dalam waktu yang hampir bersamaan, rasanya kita selalu kekurangan waktu. Stres kerap menjadi santapan harian anak iklan. Wajah-wajah jutek gampang ditemui kalau deadline sudah di hitungan menit. Saya pernah tegang dikejar deadline hingga ke dalam mimpi, terjadinya selama dua malam berturut-turut sebelum waktunya presentasi. Uuh... kalau sudah begini, sudah tidak sehat namanya!
Akhirnya saya belajar untuk membatasi diri. Kalau waktunya tidur, ya tidurlah tanpa embel-embel "halaah... gimana nih.. belum dapat ide...". Waktunya makan, ya nikmati yang benar rezeki Tuhan saat itu. Pas waktunya shalat, ya harus khusyuk, jangan 'ngebut demi kembali lagi ke meja kerja secepatnya. Ide pasti datang kok. Kata Creative Director saya dulu, makin dipaksa pasti makin terasa susah. Semua kan sudah lewat proses, jadi pasti ada saatnya muncul. Pekerjaan yang harusnya penuh cinta ini janganlah dibawa susah.
Dari hal-hal seperti tersebut di atas, saya mulai mengerti arti pentingnya mengisi time sheet untuk diri sendiri. Time sheet yang tidak asal isi alias apa adanya juga membuat kita bisa melihat cara kita bekerja sudah efektif atau belum.
Antara Dua Di
Miris juga rasanya setiap saya membaca naskah iklan Indonesia yang mengandung kata "di" semacam berikut: "... di kejar anak-anak..." atau "... dimana ditemukan...". Kadang saya berharap kalimat-kalimat tersebut hanyalah kesalahan yang mungkin luput dari kejelian sang penulis naskah saat proofreading (walaupun seharusnya jangan sampai terjadi, namanya saja sudah "proofreading"!). Tapi semakin hari, sepengamatan saya, masih banyak penulis naskah iklan muda yang kurang bisa membedakan peran "di" sebagai bentuk kata kerja pasif atau "di" sebagai penunjuk keterangan tempat.
Salah satu unsur pelajaran Bahasa Indonesia di masa sekolah yang tertanam kuat di benak saya adalah bagaimana menerapkan kata "di" dalam kalimat secara tepat. Jika kata "di" hadir bagian dari kalimat pasif berarti ia harus ditulis menyatu dengan kata kerja. Ini artinya kalimat di atas haruslah ditulis "... dikejar anak-anak...". Namun untuk menunjukkan keterangan tempat, kata "di" haruslah ditulis terpisah dari tempat yang hendak diterangkan itu. Dengan demikian, contoh kalimat di atas haruslah ditulis "... di mana ditemukan...".
Mungkin kelihatannya sepele, tapi menurut saya, pengetahuan penerapan dua kata "di" yang tepat ini harus dimiliki setiap penulis naskah iklan Indonesia. Saya selalu beranggapan penulis naskah iklan Indonesia adalah salah satu ujung tombak pemberi contoh penulisan bahasa Indonesia yang benar pada masyarakat pembaca iklan-iklan kita. Bukankah kalau kita mengaku sebagai copywriter Indonesia sebaiknya tata bahasa yang kita gunakan juga adalah yang baik dan benar?
Jadi, kalau Anda ingin menjadi copywriter Indonesia yang baik, kenalilah juga pemakaian antara dua kata di" dengan baik. Kemampuan berbahasa yang baik juga menunjukkan kualitas diri kita, bukan?
Salah satu unsur pelajaran Bahasa Indonesia di masa sekolah yang tertanam kuat di benak saya adalah bagaimana menerapkan kata "di" dalam kalimat secara tepat. Jika kata "di" hadir bagian dari kalimat pasif berarti ia harus ditulis menyatu dengan kata kerja. Ini artinya kalimat di atas haruslah ditulis "... dikejar anak-anak...". Namun untuk menunjukkan keterangan tempat, kata "di" haruslah ditulis terpisah dari tempat yang hendak diterangkan itu. Dengan demikian, contoh kalimat di atas haruslah ditulis "... di mana ditemukan...".
Mungkin kelihatannya sepele, tapi menurut saya, pengetahuan penerapan dua kata "di" yang tepat ini harus dimiliki setiap penulis naskah iklan Indonesia. Saya selalu beranggapan penulis naskah iklan Indonesia adalah salah satu ujung tombak pemberi contoh penulisan bahasa Indonesia yang benar pada masyarakat pembaca iklan-iklan kita. Bukankah kalau kita mengaku sebagai copywriter Indonesia sebaiknya tata bahasa yang kita gunakan juga adalah yang baik dan benar?
Jadi, kalau Anda ingin menjadi copywriter Indonesia yang baik, kenalilah juga pemakaian antara dua kata di" dengan baik. Kemampuan berbahasa yang baik juga menunjukkan kualitas diri kita, bukan?
Rabu, November 07, 2007
COPYWRITER YANG OK, SEPERTI APA SIH?
Saat ini, banyak sekali Creative Director yang kesulitan mencari copywriter yang baik. Masalahnya, seperti apa sih copywriter yang dianggap baik itu?
Saya menanyakan pendapat teman-teman kreatif senior yang saat ini tersebar di beberapa agency seperti ONM, Dentsu, Bates, Lowe, TBWA dll. dan feed back yang saya dapat bermacam-macam, mulai dari segi kemampuan hingga segi attitude.
Dari segi kemampuan, seorang copywriter yang baik tentulah memiliki wording power yang baik. Maksudnya, kemampuan dia dalam mengolah dan merangkai kata. Beberapa orang menyebutnya sebagai ‘crafting’. Hampir semua copywriter yang baik memiliki gaya penulisan yang indah dan unik. Mampu mengutak-atik kata dengan cerdik. Ciri-ciri awal dari copywriter seperti ini adalah mereka mempunyai kemampuan menulis puisi, cerpen, hingga lirik lagu yang cantik. Ini adalah modal besar yang (pada kenyataanya) tak semua copywriter memiliki kemampuan demikian. Ya, ada bakat di sana.
Tapi, tak semua penulis dengan kemampuan crafting yang baik bisa berkembang menjadi copywriter yang baik. Kenapa? Karena masih banyak lagi kriteria yang harus dipenuhi. Maklum, ‘seni’ menulis naskah iklan sangat berbeda dengan seni menulis fiksi atau puisi, misalnya. Karena berada di dunia periklanan adalah berada di dunia amphibi: ada diantara dua dunia, yakni dunia bisnis yang penuh perhitungan serta serba logis, dan dunia seni yang mengedepankan keindahan serta intuisi (CMIIW).
Biasanya, dari segi kemampuan ini saya menggolongkan menjadi 3C, yakni crafting, creativity dan conceptual thinking. Jadi jelas, selain kemampuan untuk mengolah kata, juga diperlukan kemampuan untuk berfikir kreatif serta pengetahuan mengenai konsep.
Creativity atau kadar kreativitas seseorang bisa ditingkatkan, dipupuk, ditumbuhkan. Sebab, IMHO kreativitas adalah attitude. Ia lebih dari sekedar bakat. Ia adalah sikap yang harus dipupuk, dikembangkan dan dibiasakan. Ia harus diajarkan dan ditanamkan sejak usia dini. Sebab kreativitas sangat berhubungan dengan sikap dan pola pendidikan dasar manusia. Saat ini banyak sekali tehnik-tehnik yang dikembangkan untuk meningkatkan daya kreativitas manusia. Para peneliti pun sudah melakukan berbagai penelitian mengenai system kerja otak yang berhubungan dengan kreativitas ini. Coba search dengan kata ‘creative thinking’ dan anda akan menemukan banyak sekali web yang mengajarkan mengenai kreativitas. Masalahnya, kreativitas bukan hanya pengetahuan.. namun juga adalah sikap! Karena itu, untuk menjadi lebih kreatif, kita perlu banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap kreatif dan mendukung kita menjadi lebih kreatif! Tanpa itu, pengetahuan mengenai tehnik kreatif hanya ada di dalam memori kita.
Saya menanyakan pendapat teman-teman kreatif senior yang saat ini tersebar di beberapa agency seperti ONM, Dentsu, Bates, Lowe, TBWA dll. dan feed back yang saya dapat bermacam-macam, mulai dari segi kemampuan hingga segi attitude.
Dari segi kemampuan, seorang copywriter yang baik tentulah memiliki wording power yang baik. Maksudnya, kemampuan dia dalam mengolah dan merangkai kata. Beberapa orang menyebutnya sebagai ‘crafting’. Hampir semua copywriter yang baik memiliki gaya penulisan yang indah dan unik. Mampu mengutak-atik kata dengan cerdik. Ciri-ciri awal dari copywriter seperti ini adalah mereka mempunyai kemampuan menulis puisi, cerpen, hingga lirik lagu yang cantik. Ini adalah modal besar yang (pada kenyataanya) tak semua copywriter memiliki kemampuan demikian. Ya, ada bakat di sana.
Tapi, tak semua penulis dengan kemampuan crafting yang baik bisa berkembang menjadi copywriter yang baik. Kenapa? Karena masih banyak lagi kriteria yang harus dipenuhi. Maklum, ‘seni’ menulis naskah iklan sangat berbeda dengan seni menulis fiksi atau puisi, misalnya. Karena berada di dunia periklanan adalah berada di dunia amphibi: ada diantara dua dunia, yakni dunia bisnis yang penuh perhitungan serta serba logis, dan dunia seni yang mengedepankan keindahan serta intuisi (CMIIW).
Biasanya, dari segi kemampuan ini saya menggolongkan menjadi 3C, yakni crafting, creativity dan conceptual thinking. Jadi jelas, selain kemampuan untuk mengolah kata, juga diperlukan kemampuan untuk berfikir kreatif serta pengetahuan mengenai konsep.
Creativity atau kadar kreativitas seseorang bisa ditingkatkan, dipupuk, ditumbuhkan. Sebab, IMHO kreativitas adalah attitude. Ia lebih dari sekedar bakat. Ia adalah sikap yang harus dipupuk, dikembangkan dan dibiasakan. Ia harus diajarkan dan ditanamkan sejak usia dini. Sebab kreativitas sangat berhubungan dengan sikap dan pola pendidikan dasar manusia. Saat ini banyak sekali tehnik-tehnik yang dikembangkan untuk meningkatkan daya kreativitas manusia. Para peneliti pun sudah melakukan berbagai penelitian mengenai system kerja otak yang berhubungan dengan kreativitas ini. Coba search dengan kata ‘creative thinking’ dan anda akan menemukan banyak sekali web yang mengajarkan mengenai kreativitas. Masalahnya, kreativitas bukan hanya pengetahuan.. namun juga adalah sikap! Karena itu, untuk menjadi lebih kreatif, kita perlu banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap kreatif dan mendukung kita menjadi lebih kreatif! Tanpa itu, pengetahuan mengenai tehnik kreatif hanya ada di dalam memori kita.
Langganan:
Postingan (Atom)